Ahmad Wahib

Last Event

Paramadina Kenalkan Ahmad Wahib ke Ambon

Husni Mubarak memberikan memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangannyaHusni Mubarak memberikan memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangannyaAmbon, 20/12 (ANTARA) - Forum Muda Paramadina Jakarta memperkenalkan profil Ahmad Wahib (1942-1973), budayawan dan pemikir Islam ke Ambon, Selasa. 

Pengenalan Ahmad Wahib melalui buku berisi kumpulan catatan hariannya “Pergolakan Pemikiran Islam”, digelar dalam Talk Show "Mengenal Ahmad Wahib, Menebar Toleransi" di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon.

Kegiatan hasil kerjasama Yayasan Paramadina dan Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) IAIN Ambon itu, menghadirkan Program Officer The Asia Foundation sekaligus dosen Filsafat dan Studi Islam Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara Budhy Munawar-Rachman, dan Direktur Yayasan Paramadina Jakarta Ihsan Ali-Fauzi sebagai pembicara.

Sedikitnya 100-an orang mahasiswa dari IAIN Ambon, Universitas Pattimura (Unpatti) dan Universitas Darussalam (Unidar), serta sejumlah anggota gerakan provokator damai hadir dalam kegiatan yang membahas pandangan Ahmad Wahib mengenai pluralisme.

Untuk memperkenalkan Wahib lebih dalam, Forum Muda Paramadina menayangkan film dokumenter berdurasi dua menit, "Ahmad Wahib" karya Muhammad Anon, yang berisi profil, catatan harian dari sang tokoh Islam.

Beberapa catatan harian Ahmad Wahib juga dibacakan oleh Rudi Fofid, wartawan senior di Ambon.

Selain film yang bercerita tentang Ahmad Wahib, Forum Muda Paramadina juga memutarkan beberapa film pendek bertema pluralisme dan perdamaian, yakni The Truth Of Pluralism, Rangkul Keragaman, Pribadi Bangsaku, dan satu film pendek garapan sutradara Hanung Bramantyo "Apa Itu Islam" dan lainnya.

Forum Muda Paramadina juga membagi-bagikan buklet Sayembara Ahmad Wahib 2012, berupa esai, video esai dan blog kepada para peserta talk show siang itu.

"Toleransi, pluralisme dan perdamaian sangat tidak mudah untuk bisa didapatkan. Ada banyak orang yang secara terang-terangan mengkampanyekan kekerasan di jalan, dan itu tidak tergantung apa agamanya," kata Koordinator Forum Muda Paramadina Jakarta Husni Mubarok, kepada ANTARA di Ambon.

Ia mencontohkan, dua tayangan yang mereka putarkan, yakni Muhammad Syarif Pelaku Bom Di Cirebon (ANTV), dan Bom Di Norwegia (VOA Indonesia) merupakan salah satu dari beberapa contoh yang membuktikan kalau kekerasan dan terorisme tidak selalu identik dengan salah satu agama saja.

"Bukan hanya kaum fundamental Islam yang melakukan aksi kekerasan seperti terorisme dan aksi-aksi kekerasan lainnya, contohnya pemboman di Norwegia," katanya.

Mubarok menambahkan, agama tidak secara otomatis mendukung penganutnya untuk melakukan kekerasan. Kesalahan penafsiran isi kitab suci dan aturan-aturan agama menjadi pendorong kuat untuk adanya konflik.

"Konflik dalam masyarakat tidak bisa dihindari, untuk itu potensi konflik antara dua kubu yang bertikai harus dikelola hingga menjadi satu kekuatan yang mampu menghindarkan kekerasan itu terjadi," ujarnya. ***6***

Mengatasi Konflik Secara Damai

Hadirin menyanyikan lagu Indonesia RayaHadirin menyanyikan lagu Indonesia RayaDi Indonesia, yang banyak terjadi adalah konflik intra agama dibandingkan antar agama. Maka, yang menjadi tantangan yaitu bagaimana menjadikan perbedaan dan konflik diatasi secara damai. Hal itu disampaikan Ihsan Ali Fauzi dalam talkshow Ahmad Wahib yang diadakan Forum Muda Paramadina dan Lembaga Studi Islam dan Perempuan di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2/12).

Menanggapi hal di atas, Rudi, alumni Fishum mengatakan bahwa konflik merupakan hal yang lumrah karena setiap agama memiliki bibit kekerasan. Sedangkan Abdul Ma’arif, dosen UIN, mengatakan bahwa dalam kebangkitan agama seringkali melahirkan dua wajah, di antaranya radikalisme dan spiritualitas. Namun, pasca reformasi, menurut Ma’arif, kebangkitan agama cenderung tidak toleran dan tidak humanis. “Mungkin itu karena mereka tidak ditopang pemahaman yang fundamen tentang agama,” jelasnya.

Senada dengan Ma’arif, Fadlan, mahasiswa Sosiologi berpendapat bahwa agama harus diinterpretasikan secara benar. Karena buktinya banyak tokoh-tokoh yang menginspirasi perdamaian seperti Martin Luther King dan Malcolm X.

Selanjutnya Ihsan merespon dengan menjelaskan, aksi kekerasan seringkali mengatasnamakan agama. Menurutnya, banyak sekali yang menggunakan nama Islam, tapi aksi kekerasan tersebut tidak hanya identik dengan Islam. “Contohnya ada Oklahoma bombing, yang melakukan orang Kristen kanan. Selain itu, juga ada terorisme bunuh diri terbesar di dunia ini oleh orang Hindu. Tapi, apakah tindakan kekerasan itu efektif?,” ujar Ihsan.

Sementara itu, Laila, mahasiswa Komunikasi, berpendapat bahwa konflik seringkali dilihat dari sisi akibat, bukan penyebab. “Mereka (pihak yang berkonflik) punya hambatan dari komunikasi. Sehingga, mereka melakukan kekerasan. Selain itu, setiap manusia punya peranan sosial, jadi jika orang memerankan perannya, tidak akan terjadi konflik sosial,” tambahnya. Ma’arif menambahkan bahwa faktor lain terjadinya konflik karena dipicu oleh faktor ekonomis dan sosiologis seperti kemiskinan.

Diskusi berlanjut dinamis, peserta lain yang menanggapi, Adit, dari Fakultas Adab. Menurutnya, cara meredam konflik adalah dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan. Dalam hal ini, pemerintah sebenarnya memiliki otoritas sebagai pengatur kebaikan. Hanya saja pemerintah tidak melakukan itu. Sehingga, hal itu harus dibangun dari diri kita masing-masing.

Mengakhiri talkshow, Husni Mubarak dari Forum Muda Paramadina mengumumkan Sayembara Ahmad Wahib yang dilaksanakan pada awal tahun 2012. Sayembara tersebut menantang anak muda khususnya tingkat SMA dan S1 untuk menghasilkan karya dalam bentuk Esai, Video, dan blog. [KH]

Menyatukan Perbedaan dengan Semangat Toleransi

 

Talkshow SemarangTalkshow Semarang

Semarang, Wahib- Forum Muda Paramadina melanjutkan rangkaian talkshow ‘Mengenal Wahib, Menebar Toleransi’ di Semarang pada 1 Desember 2011. Bertempat di Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Husni Mubarak sebagai fasilitator memandu peserta talkshow yang hadir untuk mencerna video-video yang ditampilkan. 

Peserta yang hadir tidak hanya mahasiswa Unissula, tapi juga mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo. Masih dengan konsep yang sama pada talkshow di beberapa kota sebelumnya, terdapat lima sesi diskusi dan pemutaran video. Peserta pun cukup dinamis dalam mengajukan pendapatnya mengenai pluralisme.

Ahwani, mahasiswa IAIN Walisongo bereaksi menanggapi video pertama. Menurutnya, perbedaan itu merupakan keniscayaan. Walaupun begitu, perbedaan tentu bisa disatukan. Ia menambahkan, pada konteks saat ini, konflik yang ada cenderung pada egoistis karena tidak bisa menerima perbedaan.

Selanjutnya, Husni mempertajam diskusi dengan mempertanyakan bagaimana perbedaan tersebut bisa disatukan. Jawabannya dijelaskan pada video es campur sebagai analaogi dari realisasi toleransi. “Es campur enak karena berbagai macam rasa. Tapi perbedaan itu tidak cukup dengan hanya menerima tapi cuek dengan yang lain, jadi akan lebih enak kalau berbagai macam rasa disatukan,” ujarnya.

Kemudian, pada sesi kedua, diputar video pengeboman yang terjadi di Cirebon dan Norwegia. Mayoritas peserta berpendapat tidak sepakat dengan tindakan yang dilakukan pelaku pengeboman tersebut. Ema Sunarti, mahasiswa Unissula menganalogikan para pelaku pengeboman tersebut seperti buah yang busuk di dalam es campur. Sedangkan Alzar, salah satu peserta berpendapat bahwa justru pelaku pemboman tersebut harus dipaksa masuk ke dalam es campur tersebut untuk diberikan pemahaman mengenai perbedaan.

Irsyad Rhafsadi, fasilitator dari Forum Muda Paramadina yang hadir pun memperdalam diskusi dengan mempertanyakan siapa yang memiliki wewenang untuk mengatur permasalahan perbedaan dan ketidakadilan. Alzar pun menanggapi bahwa hukum yang memiliki wewenang tersebut. Akhirnya Husni kembali menjelaskan bahwa negara memiliki peranan penting dalam mengatur perbedaan dan timbulnya konflik di Indonesia.

Lalu pada sesi selanjutnya, talkshow terfokus pada tokoh-tokoh yang menginspirasi pada perdamaian. Di akhir sesi, profil Ahmad Wahib ditampilkan sebagai salah satu sosok anak muda yang resah akan permasalahan tolransi di Indonesia. Mengakhiri talkshow, Husni mengumumkan bahwa sayembara yang diselenggarakan Forum Muda Paramadina. Sayembara tersebut terdiri lomba esai, video, dan blog.[]

Gaungkan Inspirasi Damai Agama!

E-mail Print PDF

BanjarmasinBanjarmasinJanganlah melihat agama melulu dari segi kekerasannya. Mari kita lihat agama dari segi di mana ia mendorong pada perdamaian. Ada banyak sekali tokoh dunia yang menganjurkan dan mempraktikan perdamaian dan mengaku didorong ajaran agamanya. Demikian diungkapkan Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Paramadina, dalam diskusi bertajuk “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” di Universitas Lambung Amangkurat, Banjarmasin, Kamis (17/11) pagi.

Ihsan menyebut Malcolm X sebagai satu di antara tokoh perdamaian dunia mengaku diinspirasi ajaran Islam. Malcolm X, menurut Ihsan, mengalami perjalanan berliku bisa hingga pada kesimpulan bahwa ajaran Islam menginspirasi perdamaian. “Malcolm muda adalah sosok anak jalanan atau preman kampung. Di penjara ia bertemu dengan pemimpin organisasi The Nation of Islam. Melalui organisasi inilah Malcolm masuk dan mempelajari Islam,” jelas Ihsan.

Namun, menurut Ihsan, gagasan perdamaian a la Malcolm justru muncul setelah ia menunaikan ibadah haji. Ibadah haji menyadarkannya bahwa Islam itu agama umat manusia dari berbagai golongan, ras dan etnis. Islam bukan hanya untuk umat afro-Amerika, sebagaimana diyakini The Nation of Islam. Islam harus menjadi pemersatu dalam dan untuk keragaman.

Tokoh perdamaian lainnya, lanjut Ihsan, adalah Nelson Mandela. Mandela adalah tokoh perdamaian Afrika Selatan yang pernah dipenjara selama 40 tahun lebih oleg rezim Aparteid. Dalam rangka menantang rezim yang ingin menyeragamkan rakyatnya atas nama etnis, Mandela melawan dengan cara memaafkan rezim. Dengan begitu, jelas Ihsan, perdamaian bisa terwujud di Afrika. Lagi-lagi, menurut Ihsan, Mandela mengaku bahwa sikapnya itu diinspirasi ajaran Katolik.

Menggaungkan suara agama melalui profil tokoh damai bukan berarti mengelak dari fakta bahwa agama juga menginspirasi kekerasan. Dua berita mengenai bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon (ANTV) dan pembantaian yang dilakukan Andreas Brievik (VOA) adalah contoh yang terlampau jelas untuk ditolak. Ansor, dari fakultas Hukum Unlam, membantah argumen tersebut seraya meykini bahwa soalnya adalah keadilan ekonomi yang tidak merata. Pelaku kekerasan, dalam hal ini bom, menurutnya, didorong oleh situasi sosial yang amburadul. Wajar saja jika Syarif atau Brievik bisa tega melakukannya.

Nisa, peserta dari fakultas Hukum juga, berbalik bertanya, kenapa harus bom dan membunuh, apa tidak ada cara lain agar keinginannya bisa terwujud? Atas pertanyaan ini, Ihsan berkomentar bahwa bom bunuh diri lebih banyak mudaratnya, bukan saja untuk orang lain, tetapi bagi gerakannya itu sendiri. Alih-alih tujuan tercapai, organisasi yang menaungi Syarif misalnya segera dicari dan dibekukan. “Lebih dari itu,” lanjut Ihsan, “simpati masyarakat juga turut berkurang. Bagaimana syariat Islam bisa mensejahterakan bila membangun jalan dengan kekerasan.”

Ihsan mengingatkan bahwa hubungan kekerasan dan agama ada sedikit sandungan, yakni Ismamophobia. Islamophobia, kecurigaan atau ketakutan akan Islam terjadi di Eropa, di mana umat Islam di sana semakin besar jumlahnya. Mereka khawatir umat Islam akan mengubah tradisi Eropa dengan ajaran teroris Islam. Hal ini, imbuh Ihsan, terlihat dalam berita yang disuguhkan VOA bahwa pembantaian dan bom di Oslo mula-mula diduga kelakuan teroris Islam. Rupanya dugaan ini meleset. Pembantaian dilakukan pemuda kristen fundmentalis.

Atas penjelasan tersebut, Anita, peserta dari ilmu kependidikan berpendapat bahwa penghargaan terhadap perbedaan sangat penting. Bukan saja saling hormat antar sesama umat manusia beda agama, bahkan seorang ateis pun harus dihargai. Mereka selalu diidentikan dengan nilai-nilai jahat. Padahal selama mereka ateis sebagai keyakinan personal, imbuhnya, dan tidak melakukan kejahatan sosial, tidak ada alasan untuk menghargainya?

Ibarat es campur, tambah Nita, yang tidak enak kalau di dalamnya hanya ada satu jenis buah. Justru karena banyak buah, campurannya mendapat kekuatan. Masing-masing buah menyumbangkan rasanya dan menjadi es campur yang nikmat buah dari saling memberi rasa. Meski, dia tidak menyangkal bahwa ada kemungkinan salah satu buahnya busuk. Nurholis atas nama Lembaga Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan (LK3), Banjarmasin, menilai buah busuk dalam es campur adalah tugas negara untuk menyingkirkannya.

Tak seperti diskusi lainnya, diskusi ini dimulai dengan film-film pendek dan komentar peserta. Tugas narasumber merespons tanggapan peserta dan memberi perspektif sebagai bahan pengaya. Diskusi menjadi lebih hidup karena peserta memiliki banyak kesempatan untuk menuangkan unek-unek dan gagasan dalam benak masing-masing. Prinsip toleransi dan pluralisme tak sekedar norma, melainkan praktik yang sudah terjadi sejak dalam diskusi ini berlangsung.[]

Menebar Benih-benih Toleransi Wahib

E-mail Print PDF

Slamet dan Pradewi mengisahkan pengalamannyaSlamet dan Pradewi mengisahkan pengalamannya

Dalam upaya memperkenalkan Ahmad Wahib beserta Catatan Hariannya (1981) tentang toleransi, pluralisme dan perdamaian di kalangan pelajar dan mahasiswa se-Bandung Raya, Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung bekerjasama dengan Forum Muda Paramadina menggelar Talkshow bertajuk “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” dengan menghadirkan narasumber Ihsan Ali-Fauzi (Dosen Ilmu Politik dan Direktur Yayasan Wakaf Paramadina) yang dipandu oleh Husni Mubarok (Aktivis Forum Muda Paramadina) dan Slamet (Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) di Auditorium Utama UIN SGD Bandung, Seni (28/11) siang.

Salim Rosyadi, Ketua LPIK, menuturkan, "pada kesempatan ini Ahmad Wahib menjadi kajian tokoh yang sangat penting kita kenalkan dan gagasan tentang toleransi, pluralisme untuk kita sebarkan. Mengingat tingkat kekerasan di Indonesia, khususnya Jawa barat sangat tinggi," tegasnya.

Senada dengan Salim, Husni menambahkan dalam rangka menebarkan wawasan pluralisme dam toleransi di Indonesia, Wahib perlu diperkenalkan secara sistematis. Catatan hariannya adalah medium yang cukup bisa diakses siapa pun, termasuk anak-anak muda, untuk memasuki pemikiran dan renungan-renungannya tentang Islam yang plural dan toleran di Tanah Air.

Talkshow dibagi ke dalam lima sesi; Pertama, Apa itu pluralisme? dengan memutar video "Pluralism", "Pancasila", dan "Keragaman". Kedua, Agama dan kekerasan dengan menonton rekaman berita bom Cirebon dan bom Norwegia. Ketiga, Islam dan Perdamaian dengan memutar film "Apa itu Islam" karya Hanung. Keempat, Ahmad Wahib dengan memutar dokumenter biografi singkat Wahib. Kelima, Pembacaan catatan Wahib.      

Mengenai pluralisme, Abdullah mahasiswa Tasawuf Psikoterapi berkomentar "Keragaman itu indah dan sunatullah, maka hormatilah perbedaan itu" 

Hasan, mahasiswa Manajemen Dakwah menambahkan "Keragaman suatu masyarakat harus menjadi kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang selaran, harmonis," jelasnya

Bagi Boim, mahasiswa Sosiologi, pluralisme tidak hanya dimaknai sebagai memahami, mengakui perbedaan, "akan tetapi harus bisa melakukan kerjasama dengan melihat persamaan, bukan perbedaan" katanya.

Ihsan mengibaratkan pluralisme itu seperti es campur yang terdiri dari beragam buah-buahan "Akan terasa nikmat jika sesuai dengan ketentuan dan tidak memasukan buah yang busuk pada es campur itu." 

Zaki, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, menanyakan "Siapa yang menentukan busuk tidaknya buah yang dimasukan ke dalam es campur itu? dan adakah jaminan kita supaya tidak meminum es campur yang busuk buahnya?" 

"Ya. Warung es campur kan ada manajernya. Untuk suatu negara, manajer itu adalah pemerintah dengan alat-alatnya, polisi misalnya, merekalah yang berwenang mengawasi dan membuang 'buah busuk'nya," kata Ihsan.

Aksi M Syarif, pelaku bom bunuh diri di Cirebon, dan Anders Behring Breivik, pelaku pemboman di Norwegia, kata Ihsan menunjukkan "Kekeasan bisa terjadi  pada agama apa saja. M Syarif orang Islam pelaku bom Cirebon, Breivik orang Kristen pelaku di Norwegia, di Thailand orang Buddha melakukan bom bunuh diri, di India orang Hindu melakukan kekarasan dan bunuh diri" tuturnya

Melihat pelbagai fakta itu, setujukah kita dengan tindah kekarasan atas nama agama? Rizki, mahasiswa Humas mengeluhkan "Melihat pelaku kekerasan dan bom bunuh diri di Cirebon keselamatan apa yang diajarkan Islam itu? Benarkah Islam mengajarkan kekerasan" cetusnya 

"Justru karena adanya klaim kebenaran semua orang melakukan kekerasan itu" kata Hendri mahasiswa Humas berpendapat atas maraknya kekerasan

Untuk meminimalisir tindakan kekerasan itu, Kuncinya "Jangan memaksa, menghargai pendapat, keyakinan orang lain, mari kita lihat segala kesamaan dan perbedaan dengan cara diperbaiki, diarahkan, bukan dengan cara kekerasan dalam menyelesaikan segala urusan" ajak Ihsan.

Menanggapi kuatnya citra Islam sebagai agama kekerasan, Rohim, mahasiswa Perbandingan Agama menyatakan, "Islam itu tidak bengis, keji jika kita mau melihat persamaan di setiap agama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ibarat main gitar oleh yang tidak mahir akan terdengar sumbang. Akankah kita menyalahkan gitar?" keluhnya.

Salah satu pelajar dari SMA Muhammadiyah menegaskan "Jangan salahkan Islamnya, tetapi orangnya yang memaknai Islam dengan cara kekerasan" tegasnya.

Selain itu, banyak tokoh "beragama" yang mengajarkan perdamaian sebagai usaha untuk memutus mata rantai kekerasan, seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Malcolm X, Dalai Lama ke-14 Noam Chmsky, Gus Dur, Cak Nur dan Ahmad Wahib untuk Indonesia.

Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942 yang tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya yang berpikiran luas dan terbuka, yang mendalami secara serius gagasan pembaharuan Muhammad Abduh. Ia menolak objek-objek kultus yang menjadi sesembahan para leluhurnya. seperti tombak, keris, ajimat, dan buku-buku primbon.

Menanggapi catatan harian Ahmad Wahib yang menuai kontroversial, Slamet menuturkan, perlu diketahui dalam masyarakat Madura, keturunan kyai sangat dihormati dan akan terus dicium tanganya walapun merakukan kesalahan. "Senakal-nakalnya anak Kyai akan tetap dihormati dan dicium tangannya. Berbeda dengan keturunan biasa," jelasnya.

Beberapa catatan harian Ahmad Wahib menunjukkan bahwa ia adalah seorang pencari kebenaran yang tak kenal lelah. “Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, … Dan terus terang Aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.”

Wahib ingin tampil sebagai penganut agama dengan kekuatan pikirannya sendiri. Islam yang dicarinya adalah Islam yang dapat menopang Pluralisme Indonesia, negara yang sangat dicintainya. Sebuah Islam yang terbuka dan toleran kepada para penganut agama-agama lain. 

“Bagi kita, theis dan theis bisa berkumpul. Muslim dan Kartini bisa bercanda. Artis dan Atlit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan anti pluralis tidak bisa bersatu.” 

Pradewi Tri Chatami menceritakan temuannya bahwa ada kemungkinan catatan harian Ahmad Wahib tidak semuanya di bukukan, "Salah satunya soal Menstruasi. Wahib mempertanyakan kenapa perempuan tidak boleh shalat pada saat menstruasi padahal itu adalah sesuatu yang given?" paparnya.

Menjawab persoalan ada catatan harian Ahmad Wahib yang tidak dibukukan, Ihsan menjelaskan "Memang tak semuanya dibukukan. Beberapa karena faktor tidak terbaca tulisanya, tapi jika betul maka catatan tadi sangat menarik," ujarnya.

Ia menghimbau kepada seluruh peserta talkshow yang belum pernah membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib "Bacalah pada saat di angkot, rumah karena bagi saya buku ini bisa menjadi teman dialog, keluh kesah atas segala persoalan yang ada," kesannya.

Bila kita tidak sepakat dengan segala kegelisahan Ahmad Wahib "Tuliskanlah dan ikuti Sayembara Esai, Video dan Blog Ahmad Wahib 2012. Jadilah orang pertama dari Bandung yang ikut Sayembara Ahmad Wahib 2012," saranya.

Acara ditutup dengan pembagian doorprize buku-buku terbitan Yayasan Wakaf Paramadina kepada 10 peserta; 5 orang dari mahasiswa UIN SGD Bandung dan 5 orang dari pelajar SMA se-Bandung Raya serta Live Performance dari Mapah Layung dan The Karl Marx.[]

 

Toleran Bukan "Masa Bodoh"

E-mail Print PDF

SurabayaSurabaya

IAIN, WAHIB - “Anak muda bisa berperan menjaga toleransi dengan gaya mereka sendiri,” demikian disampaikan Husni Mubarak dari Forum Muda Paramadina (FMP) dalam sambutannya untuk talkshow “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” (28/09).

Talkshow kedua ini diselenggarakan FMP di gedung SAC, IAIN Sunan Ampel, Surabaya bekerjasama dengan Center for Marginalized Communities Studies (CMARs). Talkshow pertama diselenggarakan di UIN Jakarta seminggu sebelumnya. Kali ini, Ihsan Ali Fauzi, Direktur Program Yayasan Paramadina, menjadi narasumber dan dimoderatori oleh Ahmad Zainul Hamdi.

Talkshow dibagi ke dalam lima sesi. Sesi pertama bertema toleransi sesama manusia. Kedua, bertema kekerasan dan toleransi. Ketiga, pancasila sebagai pedoman bangsa. Keempat, mengenal Ahmad Wahib, dan terakhir membincang rencana tindak lanjut talkshow.

Pada sesi pertama, moderator mempersilakan peserta untuk menanggapi video yang diputar sebelumnya terkait keberagaman. Aliyah, peserta talkshow, berpendapat bahwa perbedaan itu indah jika semua berlaku toleran. Sayangnya manusia sering mengedepankan egonya sendiri. Sementara Amir, peserta lainnya, menanyakan, sejauh mana batas toleransi? Terhadap pelaku bom, apakah kita harus toleran?

Ihsan Ali Fauzi menanggapi bahwa Islam menghargai pilihan individu. Tapi bukan berarti tidak boleh mendengarkan yang lain. Justru, kita selalu ingin didengarkan. Di situ pilihan individu menjadi berharga didengarkan.

“Seperti es campur, terasa nikmat kalau proporsional. Kalau busuk salah satu buahnya, es campur jadi tidak nikmat. Yang busuk itu harus diangkat atau diganti dengan yang bersih. Batasnya adalah merusak. Sejauh dia merusak, maka dia tidak bisa ditoleransi. Penjarakan, dibina dan diperbaiki sampai tidak melakukan kekerasan. Wasitnya adalah pemerintah,” tambah Ihsan.

Sesi selanjutnya menampilkan cuplikan video kekerasan. Ninik, salah seorang peserta, berpendapat bahwa sebagai orang beragama, wajar kalau jengkel ketika melihat kemaksiatan karena hal tersebut diajarkan dalam agama. Namun, jika melakukan kekerasan, tidak wajar. Menurutnya, untuk bisa menerima perbedaan butuh waktu. Seiring interaksi makin lebar, makin toleran.

Pada sesi ketiga, peserta disuguhi video pendek yang mengilustrasikan Pancasila. “Video mengenai Pancasila itu sangat menarik. Kita bisa menjadi seseorang yang relijius dan di saat yang sama juga nasionalis,” ujar salah satu peserta,  Umar Kosim.

Selanjutnya, sesi keempat, sosok Ahmad Wahib diperkenalkan kepada peserta lewat video. Beberapa peserta menceritakan pengalamannya yang tergugah membaca catatan harian Wahib dan membacakan kutipan-kutipannya kepada peserta lain. “Kita jangan mendewakan Wahib,” kata Rofiqi, salah seorang peserta. Ihsan Ali-Fauzi sepakat bahwa Wahib jangan didewakan karena Wahib sendiri akan menentang pendewaan itu.

Di sesi terakhir, peserta mendiskusikan apa saja yang bisa dilakukan generasi muda untuk menghidupkan semangat toleransi Wahib. Mereka menyadari bahwa toleransi sesama manusia menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu, mereka akan terus mengampanyekan sikap toleran ini kepada sesama manusia. Dalam penutupnya, Ihsan Ali-Fauzi menyampaikan, “Toleransi bukan ‘masa bodoh’, tapi melaksanakan golden principle, memperlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh orang lain.”[]


Page 1 of 2

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »