Slamet dan Pradewi mengisahkan pengalamannya
Dalam upaya memperkenalkan Ahmad Wahib beserta Catatan Hariannya (1981) tentang toleransi, pluralisme dan perdamaian di kalangan pelajar dan mahasiswa se-Bandung Raya, Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung bekerjasama dengan Forum Muda Paramadina menggelar Talkshow bertajuk “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” dengan menghadirkan narasumber Ihsan Ali-Fauzi (Dosen Ilmu Politik dan Direktur Yayasan Wakaf Paramadina) yang dipandu oleh Husni Mubarok (Aktivis Forum Muda Paramadina) dan Slamet (Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) di Auditorium Utama UIN SGD Bandung, Seni (28/11) siang.
Salim Rosyadi, Ketua LPIK, menuturkan, "pada kesempatan ini Ahmad Wahib menjadi kajian tokoh yang sangat penting kita kenalkan dan gagasan tentang toleransi, pluralisme untuk kita sebarkan. Mengingat tingkat kekerasan di Indonesia, khususnya Jawa barat sangat tinggi," tegasnya.
Senada dengan Salim, Husni menambahkan dalam rangka menebarkan wawasan pluralisme dam toleransi di Indonesia, Wahib perlu diperkenalkan secara sistematis. Catatan hariannya adalah medium yang cukup bisa diakses siapa pun, termasuk anak-anak muda, untuk memasuki pemikiran dan renungan-renungannya tentang Islam yang plural dan toleran di Tanah Air.
Talkshow dibagi ke dalam lima sesi; Pertama, Apa itu pluralisme? dengan memutar video "Pluralism", "Pancasila", dan "Keragaman". Kedua, Agama dan kekerasan dengan menonton rekaman berita bom Cirebon dan bom Norwegia. Ketiga, Islam dan Perdamaian dengan memutar film "Apa itu Islam" karya Hanung. Keempat, Ahmad Wahib dengan memutar dokumenter biografi singkat Wahib. Kelima, Pembacaan catatan Wahib.
Mengenai pluralisme, Abdullah mahasiswa Tasawuf Psikoterapi berkomentar "Keragaman itu indah dan sunatullah, maka hormatilah perbedaan itu"
Hasan, mahasiswa Manajemen Dakwah menambahkan "Keragaman suatu masyarakat harus menjadi kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang selaran, harmonis," jelasnya
Bagi Boim, mahasiswa Sosiologi, pluralisme tidak hanya dimaknai sebagai memahami, mengakui perbedaan, "akan tetapi harus bisa melakukan kerjasama dengan melihat persamaan, bukan perbedaan" katanya.
Ihsan mengibaratkan pluralisme itu seperti es campur yang terdiri dari beragam buah-buahan "Akan terasa nikmat jika sesuai dengan ketentuan dan tidak memasukan buah yang busuk pada es campur itu."
Zaki, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, menanyakan "Siapa yang menentukan busuk tidaknya buah yang dimasukan ke dalam es campur itu? dan adakah jaminan kita supaya tidak meminum es campur yang busuk buahnya?"
"Ya. Warung es campur kan ada manajernya. Untuk suatu negara, manajer itu adalah pemerintah dengan alat-alatnya, polisi misalnya, merekalah yang berwenang mengawasi dan membuang 'buah busuk'nya," kata Ihsan.
Aksi M Syarif, pelaku bom bunuh diri di Cirebon, dan Anders Behring Breivik, pelaku pemboman di Norwegia, kata Ihsan menunjukkan "Kekeasan bisa terjadi pada agama apa saja. M Syarif orang Islam pelaku bom Cirebon, Breivik orang Kristen pelaku di Norwegia, di Thailand orang Buddha melakukan bom bunuh diri, di India orang Hindu melakukan kekarasan dan bunuh diri" tuturnya
Melihat pelbagai fakta itu, setujukah kita dengan tindah kekarasan atas nama agama? Rizki, mahasiswa Humas mengeluhkan "Melihat pelaku kekerasan dan bom bunuh diri di Cirebon keselamatan apa yang diajarkan Islam itu? Benarkah Islam mengajarkan kekerasan" cetusnya
"Justru karena adanya klaim kebenaran semua orang melakukan kekerasan itu" kata Hendri mahasiswa Humas berpendapat atas maraknya kekerasan
Untuk meminimalisir tindakan kekerasan itu, Kuncinya "Jangan memaksa, menghargai pendapat, keyakinan orang lain, mari kita lihat segala kesamaan dan perbedaan dengan cara diperbaiki, diarahkan, bukan dengan cara kekerasan dalam menyelesaikan segala urusan" ajak Ihsan.
Menanggapi kuatnya citra Islam sebagai agama kekerasan, Rohim, mahasiswa Perbandingan Agama menyatakan, "Islam itu tidak bengis, keji jika kita mau melihat persamaan di setiap agama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ibarat main gitar oleh yang tidak mahir akan terdengar sumbang. Akankah kita menyalahkan gitar?" keluhnya.
Salah satu pelajar dari SMA Muhammadiyah menegaskan "Jangan salahkan Islamnya, tetapi orangnya yang memaknai Islam dengan cara kekerasan" tegasnya.
Selain itu, banyak tokoh "beragama" yang mengajarkan perdamaian sebagai usaha untuk memutus mata rantai kekerasan, seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Malcolm X, Dalai Lama ke-14 Noam Chmsky, Gus Dur, Cak Nur dan Ahmad Wahib untuk Indonesia.
Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942 yang tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya yang berpikiran luas dan terbuka, yang mendalami secara serius gagasan pembaharuan Muhammad Abduh. Ia menolak objek-objek kultus yang menjadi sesembahan para leluhurnya. seperti tombak, keris, ajimat, dan buku-buku primbon.
Menanggapi catatan harian Ahmad Wahib yang menuai kontroversial, Slamet menuturkan, perlu diketahui dalam masyarakat Madura, keturunan kyai sangat dihormati dan akan terus dicium tanganya walapun merakukan kesalahan. "Senakal-nakalnya anak Kyai akan tetap dihormati dan dicium tangannya. Berbeda dengan keturunan biasa," jelasnya.
Beberapa catatan harian Ahmad Wahib menunjukkan bahwa ia adalah seorang pencari kebenaran yang tak kenal lelah. “Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, … Dan terus terang Aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.”
Wahib ingin tampil sebagai penganut agama dengan kekuatan pikirannya sendiri. Islam yang dicarinya adalah Islam yang dapat menopang Pluralisme Indonesia, negara yang sangat dicintainya. Sebuah Islam yang terbuka dan toleran kepada para penganut agama-agama lain.
“Bagi kita, theis dan theis bisa berkumpul. Muslim dan Kartini bisa bercanda. Artis dan Atlit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan anti pluralis tidak bisa bersatu.”
Pradewi Tri Chatami menceritakan temuannya bahwa ada kemungkinan catatan harian Ahmad Wahib tidak semuanya di bukukan, "Salah satunya soal Menstruasi. Wahib mempertanyakan kenapa perempuan tidak boleh shalat pada saat menstruasi padahal itu adalah sesuatu yang given?" paparnya.
Menjawab persoalan ada catatan harian Ahmad Wahib yang tidak dibukukan, Ihsan menjelaskan "Memang tak semuanya dibukukan. Beberapa karena faktor tidak terbaca tulisanya, tapi jika betul maka catatan tadi sangat menarik," ujarnya.
Ia menghimbau kepada seluruh peserta talkshow yang belum pernah membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib "Bacalah pada saat di angkot, rumah karena bagi saya buku ini bisa menjadi teman dialog, keluh kesah atas segala persoalan yang ada," kesannya.
Bila kita tidak sepakat dengan segala kegelisahan Ahmad Wahib "Tuliskanlah dan ikuti Sayembara Esai, Video dan Blog Ahmad Wahib 2012. Jadilah orang pertama dari Bandung yang ikut Sayembara Ahmad Wahib 2012," saranya.
Acara ditutup dengan pembagian doorprize buku-buku terbitan Yayasan Wakaf Paramadina kepada 10 peserta; 5 orang dari mahasiswa UIN SGD Bandung dan 5 orang dari pelajar SMA se-Bandung Raya serta Live Performance dari Mapah Layung dan The Karl Marx.[]